Sambil mengatur nafas jilatanku menurun ke arah dadanya, lidahku berputar-putar di sekitar putingnya yang pink kehitaman. Film Porno Lina masih menunduk saat sisi pantatnya menyenggol pinggangku. “Udah makan?”
Lina mengangguk, kuambil dua kaleng green sand dari kulkas kecil, dan kusodorkan rokok A mild menthol. Telepon berdering, ternyata co-pil dari pesawat lain yang ternyata temanku, juga nge-RON (Rest Over Night) di tempat yang sama. Lina kudekap dengan mesra dan kami tak banyak bercakap lagi sesudah itu.Pukul lima seperempat kami keluar dari kamar mandi. Mukanya makin memerah, menambah debaran di hatiku.Tiba-tiba dengan tak kuduga Lina melepaskan bajunya, “Takut kusut kalo pulang Nov..”
Kututupi mata takjubku akan keindahan tubuh bagian atasnya yang kini hanya mengenakan BH hitam tipis. “Jangan-jangan bukan manusia..”, pikirku. Kucari berbagai dalih agar itu tak terjadi. “Apakah pikiran kita sama?”Kali ini Lina mengangkat wajahnya mencoba menatapku. Hari kemudian minta bantuanku untuk menemaninya.




















