“Ah.. Bokep china Wajahnya melukiskan kebahagiaan dan ketenangan. “Ray…”
Chie mengerang lirih saat batang kemaluanku menusuk liang kemaluannya. Jay menolehkan kepalanya ke arah mobil. Karena ia adalah temanku, sahabatku, orang yang kukasihi.Jay? “Ray, aku menyayangimu.”
Ah, Chie. Mungkin aku takkan sesedih Chie, mungkin juga. “Aku ingin bercinta denganmu, Ray.”
“Jangan, Chie!”
Kupegangi kedua pundaknya, menjauhkan kepalanya. Itulah sahabatku, gadis cerewet yang berbicara seperti kereta api, yang kukenal sejak penataran mahasiswa baru. Aku yang pantang bercinta dengan perek dan pelacur. Waktu itu Jay juga sedang mengejar Chie. Ah, memang teman lebih berharga daripada pacar. Kutunggu saat-saat kepalannya menghajarku. Jay, sahabat terbaikku.Chie adalah gadis penuh pesona. Aku mengenalnya sejak pertama kali kuliah. “Sentuh aku, Ray!” desahnya di dadaku. Kurasakan otot-ototku menegang dalam kenikmatan yang kurasakan. Saat itu aku sedang melakukan pendekatan dengan Chie. “Chie sudah tidur.”
Kupalingkan wajahku, menatap Jay yang sudah duduk di sebelahku.




















