Juga Nikon, kawan baik yang menjadi sumber nafkahku. Dari baju kaosnya yang pendek, dapat kulihat putih mulus perutnya. Bokep Montok Aku mengambil rokok dari saku depan kemejaku, menyalakannya. Entah apa yang dikejar mereka, para simpatisan itu. Selalu ingat Ipet, kalau aku sendirian.”
“Ipet?”
“Pacarku.”
“Oh. “Ohk!.., aduh Mas Joe, cuma bisa masuk seperempat…”
“Ya udah Mikha, udah deh jangan dipaksaain, nanti kamu tersedak.”
Kutarik tubuhnya, dan kurebahkan ia di seat Kijangku. “Mau nyoba nggak?”. Aku terus menggoyang pantatku ke depan ke belakang, keatas kebawah dengan teratur sampai pada suatu saat. Tanganku memegang dadanya, meremasnya dari balik kaos tipis dan bhnya. Entah apa yang dikejar mereka, para simpatisan itu. Sesaat kemudian kaos itu telah kubuka. “Mikha! “Eh, nama kalian siapa?” Tanyaku, “Aku Joe.”
“Saya Mikha.” Kata cewek manis itu, lalu teman-temannya yang lain pun menyebut nama. Dari baju kaosnya yang pendek, dapat kulihat putih mulus perutnya.




















