Kemudian aku guyur tubuhku dengan air yang mengalir deras dari pancuran di atas monitor. Bokep mata terpejam seolah menikmati kamiapan kami. Aku mengangguk.Kini aku memeluk tubuh indah Eksanti dengan posisi menyamping, sedang Eksanti rebah menghadap ke atas langit-langit kamar. Dia tersenyum, “Wah, Mas ternyata pintar banget untuk urusan begituan.”, Aku tertawa. Bagiku berpaducinta adalah kesepakatan, berdasarkan kesadaran tanpa adanya unsur pemaksaan. Kata-kataku yang terakhir ini ternyata membuat wajah Eksanti memerah. Eksanti juga membantukan memanfaatkan di pinggangku. Dengan demikian aku semakin bebas dan bebas untuk mengeluar-masukkan batang kejantananku ke dalam liang senggama Eksanti. Tubuhku akhirnya lunglai tak berdaya di atas tubuh Eksanti. Namun aku tak peduli. “Aku tanya, kok malah balik nanya ke aku sih?”, ia bertanya dengan nada agak ketus. kumohon, tolong.. aku menyayanginya. plash.. matanya perlahan terpejam. Lagian kalaupun bisa, aku tidak ingin bermimpi tentang kamu, Santi”, jawabku pura-pura memelas.




















