Aku merasakan semburan nafas hangat kak Dewi. Bokeb Sialan ! Lalu aku mutup kedua mataku rapat-rapat. “Iya kak !”, bergegas aku ke meja makan. Terdiam beberapa saat, sebelum kak Dewi mendorong tubuhku yang menindih tubuhnya. Terdiam beberapa saat, sebelum kak Dewi mendorong tubuhku yang menindih tubuhnya. Rupanya sudah siang. Kembali aku mengalihkan pandanganku dari lubang kunci itu. Betisnya itu, alamak. Tiba-tiba terdengar dering telp, bergegas aku bangun dan mengangkat gagang telpon. Pantat kak Dewi yang hanya dilapisi selembar baju tidur tipis begitu indah terlihat. Setelah memastikan kak Dewi pergi, aku kemudian mulai mengamati atap dan jarak antar ruangan. mengapa baru sekarang aku menyadari kalau tubuh kak Dewi sedemikian putih dan moligh.




















