Dengan jemariku, kuraba bulu-bulu kemaluannya yang tersusun rapi. Bokep Tobrut Kupikir akulah si keledai dungu itu, yang mengaku sudah pernah bercinta, ternyata seperti anak kecil di atas tempat tidur. “Ada yang salah?” tanyaku. “Kamu akan menghilang besok pagi?” Kudengar ia tertawa lirih. “Wah,” kataku, “aku tak bisa dansa.”
Ia mengangkat tubuhnya dan tersenyum. Lonjakan-lonjakan jantungku membuat mataku terpejam. Tapi tidak ada. Ia menekan tubuhku hingga merapat ke tubuhnya. Waktu membawa keheningan. Pinggulku bergerak dan bergerak, pori-poriku meresapi semua kenikmatan yang bisa diraihnya. Kupejamkan mataku, menghisap buah dadanya, dan memainkan jemariku. Lalu secara tiba-tiba kekakuannya berubah menjadi sebuah senyuman tipis. Beberapa jam yang lalu aku masih melihat tawa di wajahnya, senyumnya. ah… sudah..tentu..” Ia tertawa. Jelas sudah ia mengetahui kalau aku memang masih perjaka. Ia memiliki sesuatu yang membuatku tak jenuh kala memandangnya. Sebentar. Bibirnya berbisik-bisik tak karuan. Kulihat lehernya yang putih bergerak-gerak saat ia menghabiskan setengah dari isi gelasnya.




















