Bulls**t! Gua ga bakal perkosa anak lo.”Saya merasa sedikit lega mendengar perkataan itu, hingga si Hitam melanjutkan perkataannya, “Iya, kita gak perkosa memeknya, tapi siapa yang tahan liat pantat semontok itu!” kata si Hitam, sambil menepuk pantat Dian. Bokeb Dian tidak henti2nya menangis karena rasa sakit yang luar biasa tersebut, serta meratapi nasibnya yang malang.Si Botak berpuluh2 kali mencambuki pantat, punggung, dan paha Dian dengan cambuk kulitnya, sedangkan si Kumis dengan rotan. Ko Aseng, demikian tetangga dan kerabat memanggil saya. Kedua temannya, satu yang berkumis, dan satu yang botak, kemudian menyeret Dian dan adiknya, Felia, ke ruang utama tempat saya diikat. Keluarga saya hidup pas-pasan, namun syukurlah saya dikarunia dua anak perempuan yang cantik-cantik. Saya baru menyadari belakangan bahwa saya salah bicara. Dian pun menjerit kesakitan. Masih kekecilan tapi, tetenya aja belom tumbuh,” ujar si Botak.“Gak apa2, gue mau liat mekinya yang belom ada bulu pastinya!”Saya pun




















