ujar suara wanita muda yang kemarinmenuntunku menuju ruang pijat.Ya.Lalu aku menuju ruang yang kemarin. Bokep Mom Dadaku mulai berdeguplagi. Kulihatdi bawahku ada kain, ya seperti saputangan.Itu kali Mbak, kataku datar dan tanpa tekanan.Ia berjongkok persis di depanku, seperti ketika iamembersihkan paha bagian bawah. Toh masih ada hariesok.Aku bergegas naik angkot yang melintas. Dari iramanya bukan sedangberjalan. kataku.Ia berjalan menuju ruang telepon di sebelah. Aku menurut saja. Kerjaan hari ini sudahkugarap semalam. Alamak.., jauhnya. kataku sambil menancapkan Junioramblas seluruhnya.Si Nina, yang tadi. Wanita muda itu mengikuti di belakang.Kemudian menyerahkan celana pantai.Mbak Wien, pasien menunggu, katanya.Majalah lagi, ah tidak aku harus bicara padanya. Esoknya,dari rumah kuitungitung waktu. Ya sekarang..! Menantang dengan mata genit sambilmendekati pintu salon. Aku tidak tahan. Ataukesialan, karena ia masih mengangkat tabloid menutupiwajah? Aku duduk di belakang, tempat favorit.Jendela kubuka. Oh.., aku hanya dapat menunduk,melihat kakinya yang bergerak ke sana ke mari diruangan sempit itu.




















